MUDIK dan LEBARAN;
Sebuah Identitas Etnik Pengobat Rindu
A. Ke Kampung Halaman Aku kan Kembali...
Mudik Lebaran telah menjadi tradisi turun-temurun umat Islam Indonesia yang hidup di kota-kota besar. Mudik telah menjadi kebutuhan psiko-sosial dan spiritual. Bagaimanapun sulitnya mendapatkan fasilitas dan sarana angkutan, kaki harus dijejakkan di kampung halaman, apa pun risikonya. Mudik telah menjadi fenomena tersendiri. Mudik Lebaran menjadi titik kulminasi yang berfungsi sebagai pemuas dahaga untuk dikenang di kampung halaman, serta pemenuhan hasrat spiritual untuk bersilaturahim dengan sanak kerabat dan handai tolan.
Selama merantau di kota-kota besar --karena mencari penghidupan atau sudah menetap-- para pemudik telah menciptakan sketsa survival yang harus 'dibayar' setiap akhir Ramadhan. Kepenatan fisik selama setahun bekerja atau merantau di kota-kota besar, menimbulkan rindu kampung halaman. Mudik adalah refleksi ''psikologi perantau''. Prosesi mudik sering pula dianggap sebagai kesempatan menunjukkan keberhasilan di rantau.
Kerinduan yang muncul adalah kerinduan keluarga besar yang secara psiko-sosial tidak sadar ingin disimpulkan kembali lewat nilai manusia perorangan --yang selama setahun mencari makan, nyaris menipis dimakan zaman. Singkatnya, mudik Lebaran merupakan produk 'hilir' dari proses migrasi untuk bersilaturahim dengan sanak keluarga di kampung. Ia telah menjadi kebutuhan, seperti misalnya untuk refreshing sesaat dari degup jantung dan detak nadi kesibukan kerja di kota.
Apa pun risikonya, mudik harus dijalani untuk menipiskan kerinduan individual selama di kota, sehingga pada gilirannya timbul sifat kemanusiaan yang beradab. Melalui silaturahim dan maaf-memaafkan, paling tidak dapat terbersit kembali ''fitrah bayi suci'' setelah sebulan menjalankan puasa. Mobilitas manusia yang tercermin dalam mudik Lebaran begitu terbuka dan mampu melintasi perangkap geografis. Bahkan merefleksikan kehendak untuk membebaskan diri dari rutinitas struktur kehidupan di kota-kota besar yang kemungkinan menindas dan mendera pemudik.
Sebagai 'peristiwa keagamaan' (Islam), mudik Lebaran telah menjadi ciri khas Indonesia. Tapi apakah tradisi berlebaran di kampung halaman dapat mengurangi keruwetan hidup? Jawabnya, amat bergantung pada bagaimana pemudik memaknai nilai-nilai religius yang terkandung di dalamnya.
B. Tiket Melambung
Ditunjang oleh kemajuan teknologi transportasi, arus mudik Lebaran kian besar volumenya. Dan ternyata, jauh sebelum masa arus mudik tiba --memasuki hari kelima puasa, misalnya-- tiket kereta api jurusan Jakarta ke kota-kota besar di Jawa untuk pemberangkatan 27 Oktober-1 November 2005 sudah habis dipesan calon pemudik. Padahal harga tiket, terutama kelas ekonomi sudah melambung, rata-rata naik 40 persen. Tapi aneh, tetap saja banyak tiket di tangan calo yang harganya tentu jauh lebih mahal.
Cepatnya tiket kereta api terjual jauh sebelum masa mudik Lebaran, menunjukkan jumlah pemudik tetap tinggi meskipun biaya transportasi melonjak tajam dibanding tahun lalu. Pemerintah memperkirakan arus mudik Lebaran tahun ini meningkat sekitar 35 persen dibanding tahun sebelumnya. Merujuk pada perkiraan pemerintah, dipastikan jalan-jalan raya akan bertambah padat.
Tapi apapun akan dilakukan agar dapat Lebaran di kampung, termasuk menjalani derita perjalanan mudik dengan risiko jadi korban kejahatan. Penderitaan yang kemungkinan dilakoni pemudik di perjalanan, terkadang justru dianggap untaian cerita menarik dan membanggakan.
C. Keamanan Arus Mudik
Agar dapat mudik Lebaran, orang berani meninggalkan rutinitas di kota, menanggalkan masalah yang bernuansa rasionalitas dan pertimbangan ekonomis. Kenikmatan yang melingkupinya tidak hanya akan dijadikan sebagai suatu tradisi, melainkan sudah terakomodasi dalam gerak kehidupan itu sendiri. Tradisi mudik dapat membudaya dan kian mapan karena disirami oleh nilai-nilai religius. Sebuah tradisi yang ditopang oleh ajaran agama menurut JJ Rousseau, akan sanggup bertahan dan mengakar kuat dalam sanubari masyarakat.
Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang mendongkrak biaya transportasi, bukan suatu halangan bagi pemudik. Dapat dipastikan, mudik Lebaran yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tidak akan mampu 'digulung' oleh kenaikan ongkos transportasi sekalipun. Mudik tetap akan semarak akibat kerinduan pada sanak keluarga dan kampung halaman lebih di atas segalanya.
Dalam prosesi mudik ini, perlu ada jaminan terhadap ketersediaan fasilitas angkutan lebaran, jaminan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan pemudik dalam perjalanan. araknya aksi kejahatan di terminal, di atas kendaraan mudik, atau di tempat-tempat transit penumpang, seperti pengalaman mudik tahun-tahun sebelumnya, memaksa banyak calon pemudik mencarter bus atau angkutan pribadi untuk bisa mudik lebaran. Pilihan seperti ini dirasakan cukup menjamin kelancaran dan keamanan pemudik. Sayang, tidak semua pemudik mampu melakukannya.
Prosesi mudik Lebaran dari tahun ke tahun seharusnya semakin membaik. Kelemahan mudik tahun sebelumnya, perlu dijadikan pelajaran untuk tidak mengulangi kekeliruan. Aparatur pemerintah seperti Departemen Perhubungan, aparat keamanan, dan instansi terkait lainnya perlu belajar pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya.
Soal kemacetan lalulintas dalam perjalanan mudik, tidak cukup diantisipasi hanya dengan memperbaiki jalan atau menyediakan jalan alternatif dan posko-posko Lebaran. Peran aktif aparat pemerintah dan kepolisian perlu ditingkatkan untuk membuat pemudik merasa nyaman. Termasuk membina kesadaran masyarakat yang dilalui kendaraan pemudik untuk mendukung kelancaran arus mudik.
Kemungkinan timbulnya aksi kejahatan dan percaloan perlu mendapat perhatian serius. Kemungkinan itu tidak bisa dipisahkan oleh belenggu krisis yang tak kunjung mereda sejalan dengan naiknya harga jual BBM dan kebutuhan pokok lainnya. Tidak menutup kemungkinan berimplikasi pada pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tentu saja dapat memicu meningkatnya angka pengangguran. Dibutuhkan kesadaran semua pihak --termasuk warga masyarakat-- untuk melawan aksi kriminal dalam perjalanan para pemudik.
Sadar dan taat pada norma hukum dan sosial, bagi sebagian orang mungkin dipersepsikan sama, padahal substansinya berbeda. Taat belum tentu sadar. Misalnya seorang pengemudi karena merasa tidak diawasi petugas, seenaknya melebihkan penumpangnya akibat nilai-nilai kesadaran belum dimaknai sebagaimana mestinya. Jika ia sadar hukum, ada atau tidak ada petugas, segala ketentuan pasti akan diikuti.
Untuk mendukung presesi mudik lebaran, tidak cukup hanya dengan ''taat'' saat ada petugas mengawasi, tetapi harus diberengi dengan kesadaran semua pihak. Sehingga mudik Lebaran tahun ini tetap memberikan nuansa religius yang bermakna tinggi di tengah kesulitan hidup yang melanda kita semua.
Bagaimana pun substansi mudik Lebaran tidak boleh hanya dimaknai sekadar saling memberi maaf, tetapi juga memberikan pesan moral untuk ''merdeka atau bebas'' dari kenistaan. Setiap manusia pada dasarnya memiliki kemerdekaan dan hak yang sama untuk memilih kehidupannya. Idul Fitri mesti dimaknai sebagai momentum untuk menjaga melepaskan diri dari belenggu pembodohan dan keterbelakangan.
Segala bentuk friksi dan konflik kepentingan, hendaknya diakhiri sembari melakukan perbaikan kualitas hubungan dan kehidupan sosial dalam bernegara. Adanya jaminan keamanan bagi pemudik merupakan suatu keniscayaan di tengah himpitan ekonomi yang terus mendera. Semoga.
D. Ritual Mudik; ibadah sosial dan kesadaran identitas
RITUS menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 959) berarti tata cara dalam upacara keagamaan. Aspek ritual adalah sesuatu yang mesti ditemukan dalam berbagai sistem institusi sosial, termasuk agama. Tetapi, dalam suatu sistem institusi agama, aspek ritual ini memiliki posisi yang khas dan unik.
Nurcholish Madjid (1992: 57-71) memposisikan ibadah sebagai institusi iman. Agama pada level paling mendasar merupakan suatu sistem kepercayaan. Ritus atau ibadah, menurut Nurcholish, berfungsi untuk memperkuat iman, memberi kesadaran lebih tinggi tentang implikasi keberimanan itu dalam wujud dan implikasi yang lebih nyata, yakni amal perbuatan. Pada titik inilah ritual mudik sebagai penjelamaan ibadah sosial lalu menjadi semacam penghubung antara iman yang abstrak dan amal yang nyata sebagai arus perjumpaan kultural dengan individu.
Uraian itu secara jelas membuka mata kita bersama betapa sebenarnya ritual mudik menjadi sebuah kebutuhan sosial dalam kontek kesadaran identitas. Bahkan ternyata bila dikaitkan dengan aspek iman atau amal, ritual mudik menuntut kesadaran mendalam akan makna dan nilai kemanusiaan yang mesti diwujudkan.
E. Mudik, Kembalikan Jati Diri
Ketika Lebaran semakin mendekat, warga kota yang berasal dari kampung bersiap-siap untuk melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Aktivitas seperti ini populer disebut dengan mudik. Maka, suasana jalan tol akan begitu penuh sesak dipadati aneka ragam kendaraan mobil dan motor. Karena di hari Lebaran, mereka berharap sekali untuk dapat berkumpul dengan keluarga, saudara, teman karib, dan suasana perkampungan yang begitu segar udaranya.
Gejala mudik di bulan Puasa ini merupakan fenomena sosial-keagamaan yang menggambarkan keseragaman rasa, karsa dan cipta warga di bumi pertiwi. Sebab, hampir setiap tahun peristiwa pulang kampung (baca: mudik) dilakukan masyarakat untuk dapat berlebaran di tanah tempat silsilah keluarganya bermuara hingga menjadi tradisi rutinitas tahunan. Suatu tradisi nan agung yang diproduksi oleh warga di Indonesia , karena di Timur Tengah, misalnya Arab Saudi, tidak terdapat tradisi mudik ke kampung halaman ketika Idulfitri menghampiri.
Di dalam tradisi mudik, tercermin suatu makna perennial bahwa setiap orang menghendaki atau mengharapkan kembalinya diri ke tempat asal-muasal. Tidaklah heran jika pemudik rela menempuh perjalanan panjang meskipun berjarak ratusan kilometer karena hendak bertemu dengan sanak famili. Bahkan, hanya untuk dapat menghirup udara segar pedesaan; pemudik rela antre berjam-jam di loket bus, stasiun kereta api, bahkan ada yang berani menyewa taksi segala. Pengorbanan tersebut adalah salah satu pertanda bahwa mudik sangatlah penting dalam denyut nadi kita.
Selain untuk memperlihatkan keberhasilan yang telah dicapai, prosesi mudik juga kerap dilakukan untuk mengembalikan jati diri kemanusiaan. Sebab, motif dari tradisi mudik yang diajarkan nenek moyang kita adalah untuk mengembalikan jati diri kemanusiaan yang telah lama dijibuni atmosfer modernitas yang menyingkirkan rasa kemanusiaan sehingga kita berubah wujud menjadi manusia yang mendewakan materi sementara itu ikatan kolektif luntur seketika dan mengakibatkan pecahnya integrasi bangsa.
No comments:
Post a Comment