Berangkat dari keprihatin dan ketidakpuasan terhadap tatanan sosial zamannya, Mark Horkheimer, berusaha mengabdikan hampir seluruh masa hidupnya untuk membebaskan individu dari perbudakan dan penindasan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan berkapital besar di Eropa waktu itu. Dalam karya-karyanya ia mengkritik habis-habisan tatanan masyarakatnya yang bercorak kapitalis yang menindas dan mengeksploitasi individu-individu di dalamnya. Karena itu pula dia bersama dengan kawan-kawannya antara lain Theodor W. Adorno dan Herbert Marcuse yang bergabung di dalam Sekolah Frankfurt.
Dalam rangka kritiknya terhadap tatanan sosial masyarakatnya serta dalam usahanya membebaskan manusia dari ketertindasannya kemudian lahirlah teori kritik masayarkat. Berbeda dari teori-teori pada umumnya teori kritik masyarakat yang digagas oleh anggota-anggota Sekolah frankfurt ini bersifat kritis dan curiga terhadap masyarakat. Sebagaimana Karl Mark yang juga mengkritik kondisi sosial masyarakat kapitalis, Horkheimer dan kawan-kawan menggarahkan kritiknya antara lain pada tatanan masyarakatnya yang semata-mata didasari oleh nilai tukar.
Dalam sistem masyarakat seperti ini segala sesuatu, termasuk tenaga manusia, dianggap sebagai komoditi yang hanya mempunyai nilai tukar. Untuk itu teori kritik masyarakat berusaha membongkar dan menelanjangi kategori-kategori masyarakat yang di dasari oleh nilai tukar, seperti kategori produktif, berguna, layak, bernilai dan sebagainya. Penolakan teori kritis terhadap kategori-kategori tersebut karena kategori-kategori tersebut berfungsi untuk menyembunyikan dan melestarikan keadaan masyarakat yang brengsek ini.
Analisis kritis yang dilakukan oleh anggota sekolah frankfurt terhadap kondisi masyarakat kapitalis ini kemudian dilanjutkan dengan kritik mereka terhadap teori-teori masyarakat yang cenderung melestarikan, membiarkan dan membenarkan tatanan masyarakat yang menindas ini. Horkheimer menyebut teori-teori tersebut sebagai teori tradisional.
Dengan mengklaim dirinya sebagai teori yang netral terhadap fakta, teori tradisional entah sengaja maupun sadar telah menjadi sarana pelestarian sistem yang berlaku. Dalam bahasa Sindhunata ia mendukung realitas yang ada justru dalam kenetralannya: kenetralannya menjadi kedok yang aman untuk menutupi "kelemahan" dirinya yang tidak mampu mengubah realitas.
Kecenderungan teori tradisiopnal yang melulu membiarkan fakta juga disebabkan karena teori tersebut bersifat ahistoris. Ahistorisme teori tradisional ini menyebabkan teori ini melepaskan diri dari proses sejarah yang terjadi di dalam realitas masyarakat. Oleh karena itu selanjutnya Horkeimer menuduh teori tradisional menjauhkan teori dari praxis. Teori demi teori Berpijak dari analisisnya terhadap teoeri tradisional kemudian Horkheimer memfatwa teori tradisional telah menjadi idiologis , artinya ia telah menjadi atau digunakan sebagai alasan pembenar dan pelestari realitas yang ada. Selain itu teori tradisional juga tidak menghasilkan kesadaran yang bisa mempengaruhi dan mengadakan perubahan terhadap realitas yang dihadapi. Dengan kata lain teori tradisional gagal menjadi teori yang emansipatoris.
Sebagaimana telah dikatakan dalam paragaraf-paragraf sebelumnya bahwa misi utama teori kritik masyarkat adalah untuk membebaskan masyarakat dari irasionalitas dan ideologi-idiologi yang membelenggu mereka. Horkhemer yakin bahwa teori kritiknya bakal mampu menajadi teori emansipatoris, karena menurutnya teorinya mempunyai ciri dan sifat yang berbeda 180 drajad dari teori tradisional. Yang pertama teori kritik senantiasa curiga dan kritis terhadap masyarakat. Kedua teori kritik berpikir secara historis. Artinya teori kritik berpijak pada masyarakat dalam prosesnya yang historis dan total. Yang terakhir teori kritik tidak memisahkan antara teori dan praxis. Teori kritik tidak hanya pintar dalam menganalisis suatu fakta, tetapi juga berusaha untuk melahirkan kesadaran untuk merubahnya. Oleh kaena itu teori kritik tidak bersifat netral, karena selain mampu untuk mengungkap fakta teori kritik juga berpretensi untuk merubahnya
Dalam membangun teori kritiknya Horkeimer telah menunjukkan beberapa keirasionalan yang terjadi pada masyarakat. Salah satu keirasionalan yang terjadi didalam masyarakat kita adalah sistem ekonomi abad ini yang menurutnya tidak rsional, karena sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh manusia. Sebalikanya sistem ekonomi itu berjalan dengan sendirinya tanpa terkontrol oleh manusia, arah pegerakannya ditentukan oleh modal (manusia yang memiliki modal). Dalam keadaan seperti ini kebebasan yang dimiliki individu adalah kebebasan semu, sebab kebebsan itu hanya dibayangkan sedang kenyataannya individu diperbudak secara tidak sadar oleh sistem yang digerakkan oleh modal. Melihat kondisi yang seperti itu kemudian horkheimer berkesimpulan bahwa masyarakat modern sudah merupakan masyarakat yang tertutup dan total. Tertutup, karena di dalam sistem yang demikian tidak mngijinkan untuk membuka dan mempersoalkannya, artinya manusia dalam setiap situasi dan hal apapun mau tidak mau harus mengikuti hukum dan aturan main sistem itu. Total karena semua segi kehidupan individual maupun sosial sudah ditentukan oleh masyarakat itu sendiri.
Melihat realitas masyarakat modern yang sudah tertutup dan total, Horkheimer sendiri merasa skeptis dan pesimis akan teori kritisnya. Horkheimer ragu dan pesimis terrhadap teori kritiknya untuk membebasakan individu dari keirsionalan masyarakat modern.
Tertutupnya peluang untuk upaya emansipasi manusia bagi teori kritiknya disebabkan kuatnya pengaruh sistem yang sedang berjalan didalam masyarakat yang didasarkan pada nilai tukar. Pengaruhnya sudah sedemikian kuat dan total tertanam dalam kesadaran dan akal budi individu. Individu-individu sendiri sudah menjadi bagian atau alat untuk melestarikan sistem yang demikian ini. Dengan kata lain akal budi manusia sudah menjadi akal budi instrumentalis yang fungsinya hanya melayani apa yang dikehendaki oleh sistem.
Dalam bukunya The Eclpise of Reason Horkheimer mencoba menjawab mengapa akal budi instrumentalis ini sampai terjadi pada manusia. Menurutnya munculnya akal budi instrumentalis itu dimulai sejak manusia mencoba mencari pengertian rasional yang dirintis oleh filsuf-filsuf kuno Yunani. Sejak itu manusia berusaha mencari pengertian rasional tentang direi dan lingkingannya.. tugas ini sekaligus juga dapat dimaknai sebagai usaha manusia untuk membebaskan dirinya dari kekuatan di luarc dirinya yang dianggap irasional demi kedaulatan dirinya.
Menurut Horkreimer setiap kali manusia berusaha untuk mencari pengertian rasional, pada saat itu juga manusia menjumpai dilema usaha manusia rasional. Sebagai ilustrasi ketika manusia berusaha membebaskan dirinya dari alam hasilnya bukannya membuat alam menjadi rasional bagi manusia, sebaliknya malah memicu pemberontakan alam. Pembebasan manusia dari alam adalah hal yang rasional---setidaknya dalam kacamata Horkreimer---sebab dengan demikian manusia dapat memperoleh otonominya terhadapa alam. tetapi usaha manusia yang rasional itu teernyata juga irasional, sebab dengan berkuasanya manusia atas alam, malah membuat manusia gantian menindas alam ,bukannya merasionalkan alam. Akibatnya alam ganti menindas manusia dan menyeret manusia kembali menuju ke kealamiahannya. Akhirnya Horkheimer beranggapan bahwa setiap kali manusia berusaha meraih pengertian rasional, saat itu pula ia menjadi irasional. Itulah dilema usaha manusia rasional menurut horkheimer.?
Monday, April 2, 2007
ZAMAN TEU PUGUH
Dilema
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment